JADILAH AHLI
AL-QUR’AN !
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Siapa tidak ingin
menjadi ahli al-Qur’an? Inilah kedudukan hamba yang paling mulia dan tinggi di
sisi Allâh Azza wa Jalla . Cukuplah hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam berikut ini menunjukkan agungnya kedudukan ini:
Dari Anas bin Mâlik
Radhiyallahu anhu beliau berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هُمْ؟ قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ
اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ
“Sesungguhnya di
antara manusia ada yang menjadi ‘ahli’ Allâh”. Para Sahabat Radhiyallahu anhum
bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Siapakah mereka?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab, “Mereka adalah ahli al-Qur’an, (merekalah) ahli (orang-orang
yang dekat dan dicintai) Allâh dan diistimewakan di sisi-Nya[1]
Hadits ini
menunjukkan tingginya kedudukan dan kemuliaan orang-orang yang menjadi ahli
al-Qur’an, karena mereka disebut sebagai ‘ahli Allâh’. Artinya merekalah para
wali (kekasih) Allâh Azza wa Jalla yang sangat dekat dan istimewa di sisi-Nya,
sebagaimana seorang manusia dekat dengan ‘ahli’ (keluarga)nya. Gelar ini
merupakan bentuk pemuliaan dan pengagungan terhadap mereka.[2]
Keutamaan dan
kemuliaan besar ini tentu menjadikan setiap orang yang beriman kepada Allâh
Azza wa Jalla dan hari akhir, berusaha untuk mengejar dan meraihnya. Apalagi
Allâh Azza wa Jalla telah menjanjikan bahwa al-Qur’an akan Allâh Subhanahu wa
Ta’ala jadikan mudah sebagai petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang beriman,
termasuk dalam hal memahami kandungannya dan meraih kemuliaan sebagai ahlinya.
Allâh Azza wa Jalla
berfirman:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ
فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Dan sesungguhnya
telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk peringatan atau pelajaran, maka adakah
orang yang (mau) mengambil pelajaran? [Al-Qamar/54:17]
Syaikh ‘Abdurrahman
as-Sa’di rahimahullah berkata, “Makna ayat ini: Sungguh Kami telah menjadikan
al-Qur’an yang mulia itu mudah, lafazhnya mudah untuk dihafalkan dan
disampaikan (kepada orang lain), juga (kandungan) maknanya mudah untuk dipahami
dan dimengerti. Karena al-Qur’an adalah perkataan yang paling indah lafazhnya,
yang paling benar (kandungan) maknanya, dan paling jelas penafsirannya. Maka
setiap orang yang menghadapkan diri (bersungguh-sungguh mempelajari)nya, Allâh
Azza wa Jalla akan memudahkan baginya dan meringankannya (untuk mencapai)
tujuan tersebut.
Peringatan atau
pelajaran (yang dimaksud dalam ayat ini) meliputi semua bentuk peringatan atau
pelajaran bagi manusia, (baik itu) berupa (penjelasan) halal dan haram,
hukum-hukum perintah dan larangan, hukum-hukum balasan (ganjaran pahala atau
siksaan di akhirat), nasehat-nasehat dan perenungan, keyakinan-keyakinan yang
bermanfaat serta berita-berita yang benar.
Oleh karena itu,
ilmu (tentang) al-Qur’an, (baik dalam hal) menghafalnya atau memahami
tafsirannya, adalah ilmu yang paling mudah dan paling tinggi (kedudukannya
dalam Islam) secara mutlak. Inilah ilmu yang bermanfaat, jika seorang hamba
(bersungguh-sungguh) mempelajarinya maka dia akan ditolong (dimudahkan oleh
Allâh Azza wa Jalla untuk memahaminya). Salah seorang Ulama Salaf mengomentari
ayat ini dengan mengatakan, “Apakah ada orang yang (mau bersungguh-sungguh)
menuntut ilmu (mempelajari al-Qur’an) sehingga Allâh Azza wa Jalla akan
menolongnya?.
Oleh karena itu, Allâh mengajak (memotivasi) para hamba-Nya untuk menghadapkan diri dan (bersungguh-sungguh) mempelajari al-Qur’an, dalam firman-Nya (di akhir ayat ini):
فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
… Maka adakah orang yang (mau) mengambil
pelajaran?[3]
TINGGINYA KEDUDUKAN
DAN KEUTAMAAN ORANG YANG MEMAHAMI AL-QURAN
Cukuplah firman
Allâh Azza wa Jalla berikut ini untuk menunjukkan betapa tinggi kemuliaan dan
keutamaan orang-orang yang dianugerahi pemahaman al-Qur’an yang benar:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ
فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Katakanlah, “Dengan
karunia Allâh dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka (orang-orang yang
beriman) bergembira (berbangga), karunia Allâh dan rahmat-Nya itu lebih baik
dari apa (kesenangan duniawi) yang dikumpulkan (oleh manusia) [Yûnus/10:58]
Dalam ayat ini Allâh
Azza wa Jalla memerintahkan orang-orang yang beriman agar mereka merasa bangga
(gembira dan bahagia) dengan anugerah yang Allâh Azza wa Jalla limpahkan kepada
mereka. Anugerah yang berupa pemahaman terhadap al-Qur’an dan kesempurnaan
iman. Dan Allâh Azza wa Jalla menyatakan bahwa anugerah dari-Nya itu lebih
indah dan lebih mulia dari semua kesenangan dunia yang diperebutkan oleh
kebanyakan manusia. ”Karunia Allâh” dalam ayat ini ditafsirkan oleh para Ulama
ahli tafsir dengan “keimanan”, sedangkan “Rahmat Allâh” ditafsirkan dengan
“al-Qur’an”. Keduanya (yaitu keimanan dan al-Qur-an) adalah ilmu yang
bermanfaat dan amalan shaleh, sekaligus keduanya merupakan petunjuk dan agama
yang benar (yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Bahkan
keduanya merupakan ilmu yang paling tinggi dan amal yang paling utama.[4]
Dalam sebuah hadits
yang shahih, dari ‘Utsman bin ‘Affân Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ
وَعَلَّمَهُ
Sebaik-baik orang di
antara kamu adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya (kepada orang
lain)[5].
Hadits yang agung
ini menunjukkan tingginya keutamaan orang yang mempelajari al-Qur’an,
mempelajari cara membacanya dengan tajwid yang benar, memahami kandungannya dan
berusaha menghafalnya dengan baik, kemudian mengajarkannya kepada orang lain,
agar petunjuk dan kebaikan yang terkandung di dalamnya tersebar dan di amalkan
manusia. Bahkan sebagian dari Ulama mengatakan bahwa barangsiapa mengikhlaskan
niatnya dan selalu menyibukkan diri dengan mempelajari al-Qur’an dan
mengajarkannya, maka termasuk ke dalam golongan para Nabi Alaihissallam
(pengikut para Nabi Alaihissallam yang setia).”[6]
Imam asy-Syâfi’i
rahimahullah berkata, “Barangsiapa mempelajari al-Qur’an maka akan tinggi
kedudukannya.”[7]
Imam Ibnul Qayyim
rahimahullah berkata, “Mempelajari dan mengajarkan al-Qur’an (dalam hadits ini)
mencakup mempelajari dan mengajarkan lafazhnya, juga mempelajari dan
mengajarkan kandungan maknanya.”[8]
Dan masih banyak
ayat al-Qur’an dan hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
menjelaskan hal ini, cukuplah ayat dan hadits di atas sebagai contoh yang menggambarkan
betapa agung kedudukan orang yang memahami al-Qur’an.
AL-QUR’AN SUMBER
PETUNJUK KEBAIKAN DAN OBAT PENYAKIT HATI
Agungnya kedudukan
orang yang memahami al-Qur’an, juga semakin terlihat jelas dengan merenungkan
besarnya fungsi diturunkannya al-Qur’an itu sendiri, yaitu sebagai sumber
petunjuk dalam kebaikan dan obat penyakit hati manusia.
Allâh Azza wa Jalla
berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ
مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ
لِلْمُؤْمِنِينَ
Wahai manusia,
sesungguhnya telah datang kepadamu nasehat atau pelajaran dari Rabbmu
(al-Qur’an) dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (hati manusia), dan
petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman [Yûnus/10:57]
Dalam ayat ini,
Allâh Azza wa Jalla mengabarkan tentang anugerah besar yang diturunkan kepada
para hamba-Nya, yaitu al-Qur’an yang mulia. Karena di dalam al-Qur’an terdapat
nasehat untuk menjauhi perbuatan maksiat, penyembuh bagi penyakit hati, yaitu
kelemahan iman, keragu-raguan dan kerancuan dalam memahami agama, serta
penyakit syahwat yang merusak hati. Juga terdapat petunjuk, yaitu bimbingan
bagi orang yang merenungkan, memahami, dan mengikuti al-Qur’an ke jalan yang
bisa mengantarkannya ke surga, serta sebab-sebab untuk mendapatkan rahmat Allâh
Azza wa Jalla yang terkandung di dalamnya.[9]
Dalam ayat lain,
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ
أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ
لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
Sesungguhnya
al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi
kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi
mereka ada pahala yang besar [Al-Isrâ’/17:9]
Syaikh Abdurrahman
as-Sa’di rahimahullah berkata, “(Dalam ayat ini) Allâh Azza wa Jalla
mengabarkan tentang kemuliaan dan keagungan al-Qur’an, bahwa kitab ini
memberikan petunjuk menuju (jalan) yang paling lurus dan paling mulia dalam
keyakinan, amal dan akhlak. Sehingga barangsiapa mengikuti petunjuk yang
diserukan dalam al-Qur’an, maka dia akan menjadi orang yang paling sempurna,
paling lurus dan paling terbimbing dalam segala urusannya.”[10]
Imam Ibnul Qayyim
rahimahullah menegaskan tingginya kedudukan dan sempurnanya petunjuk al-Qur’an
dalam semua kebaikan dan keutamaan. Beliau rahimahullah mengatakan, “Tidak ada
satu kitabpun di kolong langit yang mengandung bukti-bukti dan argumentasi
tentang perkara-perkara mulia yang dituntut (dalam Islam), yaitu tauhid,
penetapan sifat-sifat Allâh, hari kebangkitan dan kenabian, juga sanggahan
terhadap kelompok-kelompok yang menyimpang dan pemikiran-pemikiran yang rusak,
tidak ada satupun yang seperti al-Qur’an. Sesungguhnya al-Qur’an menjamin dan
menanggung semua itu dalam bentuk yang paling baik dan sempurna, paling masuk
akal, serta paling jelas penjabarannya. Maka al-Qur’an merupakan obat penyembuh
yang sejati bagi penyakit-penyakit syubhat (kerancuan dalam memahami Islam) dan
keragu-raguan.
Namun, semua itu
bergantung pada pemahaman dan penghayatan terhadap kandungan makna al-Qur’an.
Barangsiapa dinugerahkan oleh Allâh Azza wa Jalla hal itu, maka dia akan dapat
memandang (dan dapat membedakan) kebenaran dan kebatilan secara jelas dengan
hatinya, sebagaimana dia bisa memandang (dan bisa membedakan dengan jelas)
siang dan malam hari.”[11]
SYARAT MENDAPATKAN
MANFAAT DARI PETUNJUK AL-QUR’AN
Imam Ibnul Qayyim
rahimahullah berkata, “Jika kamu ingin mendapatkan manfaat dari (petunjuk)
al-Qur’an, maka pusatkanlah hatimu ketika membaca dan menyimaknya, fokuskanlah
pendengaranmu, serta hadirkanlah dirimu sebagaimana hamba Allâh (Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang menerima al-Qur’an ini menghadirkan
dirinya (ketika diturunkan al-Qur’an kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam). Karena sesungguhnya al-Qur’an ini (sejatinya) merupakan petunjuk
bagimu dari Allâh melalui lisan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam”[12]
Petunjuk dan manfaat
al-Qur’an sebagai nasehat dan peringatan, hanya akan Allâh Azza wa Jalla
anugerahkan kepada hamba-Nya yang memiliki hati yang hidup (sehat dan jauh dari
kotoran penyakit hati) dan terbuka untuk menerima petunjuk-Nya. Sebagaimana
makna firman-Nya:
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ
لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
Sesungguhnya pada
yang demikian itu (kisah-kisah dalam al-Qur’an) benar-benar terdapat peringatan
(pelajaran) bagi orang-orang yang mempunyai hati (yang hidup/bersih) atau yang
mengkonsentrasikan pendengarannya, sedang dia menghadirkan (hati)nya
[Qâf/50:37]
Juga firman-Nya:
إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ
﴿٦٩﴾ لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ
al-Qur’an itu tidak
lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, supaya dia
(Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan
supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir [Yâsîn/36:69-70]
Imam Ibnul Qayyim
rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan hati (dalam ayat) ini adalah
hati yang hidup (bersih dari noda syahwat atau syubhat) yang bisa memahami
(peringatan atau petnjuk) dari Allâh.”[13]
Oleh karena itu,
upaya untuk memasukkan makna dan kandungan al-Qur’an ke dalam hati, ini
merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan manfaat dan nasehat dari petunjuk
al-Qur’an. Dengan inilah Allâh Subhanahu wa Ta’ala memuji para hamba-Nya yang
beriman dalam firman-Nya:
بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ
الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا
الظَّالِمُونَ
Sebenarnya,
al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada (hati) orang-orang yang
berilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang
zhalim” [al-‘Ankabût/29: 49]
Upaya ini tidak lain
adalah berusaha membaca al-Qur’an dengan memahami maknanya, merenungkan
kandungnya dan menghayati petunjuknya, sebagaimana ucapan Imam Ibnul Qayyim
yang kami nukilkan di atas, “ … namun semua (manfaat dan petunjuk al-Qur’an)
itu bergantung pada pemahaman dan penghayatan terhadap kandungan makna al-Qur’an.”[14]
Oleh karena itu,
orang-orang yang hati mereka hidup dengan iman kepada Allâh Azza wa Jalla ,
mereka inilah yang akan bertambah kuat dan sempurna keimanan dan kebaikan dalam
diri mereka setiap kali mereka mendengarkan bacaan ayat-ayat al-Qur’an yang
merupakan bentuk dzikir kepada Allâh Azza wa Jalla yang paling agung,
sebagaimana firman-Nya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا
ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ
زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya
orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allâh
gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya,
bertambahlah iman mereka (karenanya) dan hanya kepada Allâh mereka bertawakkal
[al-Anfâl/8:2]
Maka orang yang
beriman dengan benar adalah orang yang ketika berdzikir kepada Allâh Azza wa
Jalla , hatinya menjadi takut dan tunduk kepada-Nya. Ini akan menjadikannya
selalu menjauhi perbuatan maksiat kepada-Nya. Karena bukti terbesar rasa takut
yang benar kepada Allâh adalah menjadikan orang tersebut menjauhi perbuatan
dosa dan maksiat.
“Dan apabila
dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah iman mereka”. Karena
orang yang beriman ketika mendengarkan bacaan ayat-ayat al-Qur’an, dia
benar-benar mendengarkannya dengan seksama dan menghadirkan hatinya untuk
merenungkan kandungannya. Ketika itulah imannya bertambah dan semakin kuat.
Karena dengan merenungkan kandungannya dia akan mendapatkan penjelasan hal-hal
yang tidak diketahuinya sebelumnya, mengingatkan akan kelalaiannya, menumbuhkan
motivasi kebaikan dalam dirinya, semangat untuk mengejar kemuliaan di sisi
Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan rasa takut terhadap siksa-Nya. Semua perkara ini
akan menumbuhkan dan menyempurnakan keimanannya”[15]
TADABBUR (RENUNGAN)
DAN HAYATI KANDUNGAN AL-QUR’AN!
Al-Qur’an diturunkan
untuk dibaca dan direnungkan maknanya, serta dihayati petunjuknya, agar bisa
menjadi sebab kebaikan bagi diri manusia, lahir dan batin. Allâh Azza wa Jalla
berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ
لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Ini adalah sebuah kitab (al-Qur-an) yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka merenungkan (makna) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran [Shâd/38:29]
Imam al-Hasan al-Bashri t
berkata, “Demi Allâh! Bukanlah mentadabburi al-Qur’an dengan (hanya) dengan
menghafal huruf-huruf (lafazh)nya tapi melalaikan hukum-hukum (kandungan)nya.
Sampai-sampai salah seorang dari mereka berkata, “Aku telah membaca al-Qur’an)
seluruhnya”, tapi tidak terlihat pada dirinya (aplikasi terhadap al-Qur’an)
dalam akhlak dan perbuatannya.”[16]
Imam Ibnul Qayyim
rahimahullah mengatakan, “Memperhatikan (merenungkan) al-Qur’an, artinya adalah
memfokuskan mata hati terhadap kandungan maknanya serta menfokuskan pikiran
untuk merenungkan dan memahaminya. Inilah maksud (tujuan) diturunkannya
al-Qur’an, bukan hanya sekedar dibaca (lafazhnya) tanpa pemahaman dan
penghayatan.”[17]
Syaikh Abdurrahman
as-Sa’di rahimahullah berkata, “Inilah hikmah diturunkannya al-Qur’an, agar
manusia merenungkan ayat-ayatnya, sehingga mereka bisa menyimpulkan
ilmu-ilmunya, serta mengamati rahasia dan hikmahnya. Maka dengan merenungkan,
menghayati dan memikirkan (kandungan) al-Qur’an berulang kali, akan diraih
keberkahan dan kebaikannya. Ini menunjukkan anjuran untuk merenungkan (makna)
al-Qur’an, bahkan ini termasuk amal (shaleh) yang paling utama dan sesungguhnya
membaca al-Qur’an yang disertai perenungan terhadap maknanya lebih utama dari
pada membacanya dengan cepat tanpa disertai perenungan.”[18]
Syaikh Abdurrahman
as-Sa’di rahimahullah berkata, “Mentadabburi (merenungkan dan menghayati)
al-Qur’an termasuk cara dan sarana terbesar untuk menumbuhkan dan menguatkan
keimanan. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ
لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Ini adalah sebuah kitab (al-Qur-an) yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka merenungkan (makna) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran [Shâd/38:29]
Maka mengeluarkan keberkahan
al-Qur’an, yang terpenting di antaranya adalah menumbuhkan keimanan, cara dan
metodenya adalah dengan merenungkan dan menghayati ayat-ayatnya.”[19]
Inilah metode para
Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Tabi’in (generasi
setelah para Sahabat Radhiyallahu anhum) ketika mempelajari dan mendalami
al-Qur’an.
Imam Abu
‘Abdirrahman ‘Abdullah bin Habib as-Sulami al-Kûfi rahimahullah berkata, “Kami
mempelajari al-Qur’an dari suatu kaum (para Sahabat Radhiyallahu anhum);
‘Utsmân bin ‘Affân Radhiyallahu anhu, ‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu
dan selain mereka berdua. Mereka menyampaikan kepada kami bahwa dulunya ketika
mereka mempelajari (al-Qur’an) dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
sepuluh ayat, maka mereka tidak akan melewati ayat-ayat tersebut sampai
memahami kandungan isinya, dalam ilmu dan amal. Mereka berkata, “kami (dulu)
belajar al-Qur’an, memahami kandungannya dan pengamalannya secara
keseluruhan.”[20]
Di dalam al-Qur’an,
Allâh Azza wa Jalla menerangkan keburukan besar pada diri orang-orang munafik,
yaitu hati mereka yang tertutup untuk menerima kebenaran. Karena mereka
berpaling dari merenungkan dan menghayati kandungan al-Qur’an. Allâh Azza wa
Jalla berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ
قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Apakah mereka tidak
mentadabbur (merenungkan kandungan makna) al-Qur’an ataukah hati mereka
terkunci (tertutup untuk menerima kebenaran)? [Muhammad/47:24].
Syaikh Abdurrahman
as-Sa’di rahimahullah berkata, “Arti ayat ini, apakah orang yang berpaling
(munafik) itu tidak mentadabbur (merenungkan kandungan makna) al-Qur’an dan
tidak menghayatinya dengan benar? Padahal kalau mereka (mau) mentadabburinya,
maka al-Qur’an akan membimbing mereka kepada semua kebaikan, memperingatkan
mereka dari semua keburukan, mengisi hati mereka dengan iman (kepada Allâh Azza
wa Jalla ) dan jiwa meraka dengan keyakinan (yang benar). Sungguh al-Qur’an
akan membawa mereka meraih kedudukan yang tinggi (di sisi Allâh Azza wa Jalla )
dan karunia yang sangat agung (dari-Nya). Al-Qur’an akan menjelaskan kepada
mereka jalan yang mengantarkan kapada (keridhaan) Allâh, kepada surga disertai
(penjelasan tentang) hal-hal yang menyempurnakan kenikmatannya atau hal-hal
yang menghalangi untuk meraihnya. Al-Qur’an juga menjelaskan jalan yang
mengantarkan kapada azab (neraka) dan hal-hal yang harus dijauhi. Al-Qur’an
akan mengenalkan mereka kepada Allâh (dengan menjeaskan) nama-nama-Nya (yang
maha indah), sifat-sifat-Nya (yang maha sempurna) dan kebaikan-Nya (yang maha
agung). Al-Qur’an akan membangkitkan kerinduan mereka untuk (meraih) pahala
yang besar (di sisi-Nya) dan menjadikan mereka takut akan siksaan-Nya yang
pedih.”[21]
SIAPAKAH AHLI
AL-QUR’AN YANG HAKIKI?
Allâh Azza wa Jalla
berfirman:
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ
حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ
فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Orang-orang yang
telah kami beri (turunkan) al-kitab (al-Qur’an) kepada mereka, mereka
mentilawah (membaca)nya dengan tilawah yang sebenarnya, mereka itulah
orang-orang yang beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka
mereka itulah orang-orang yang rugi (dunia dan akhirat) [Al-Baqarah/2:121]
Ketika menjelaskan
firman Allâh Azza wa Jalla di atas, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Tilâwah al-Qur’an meliputi tilâwah (membaca) lafazhnya dan tilâwah (memahami)
makna (kandungan)nya. Tilâwah makna al-Qur-an lebih mulia (utama) daripada
sekedar tilâwah lafazhnya. Dan orang-orang yang memahami kandungan al-Qur-an
merekalah ahli al-Qur-an, yang dipuji di dunia dan akhirat, karena merekalah
yang ahli sejati dalam membaca dan mengikuti (petunjuk) al-Qur’an.”[22]
Inilah makna hadits
yang kami sebutkan di awal tulisan ini: Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu
beliau berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هُمْ؟ قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ
اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ
“Sesungguhnya di
antara manusia ada yang menjadi ‘ahli’ Allâh”. Para Sahabat bertanya, “Wahai
Rasûlullâh! Siapakah mereka?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Mereka adalah ahli al-Qur’an, (merekalah) ahli (orang-orang yang dekat dan
dicintai) Allâh dan diistimewakan di sisi-Nya Ahli al-Qur’an adalah orang-orang
beriman yang berusaha menghafalnya dan membacanya dengan benar, serta memahami
dan mengamalkan kandungannya, jadi bukan hanya sekedar membaca dan menghafal
lafazhnya.[23]
Oleh karena itu,
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela dan melaknat orang-orang
Khawarij, padahal banyak di antara mereka yang menghafal dan banyak membaca
al-Qur’an, tapi mereka tidak memahaminya dan tidak mengambil manfaat dari
petunjuknya.[24]
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ
Mereka (orang-orang Khawarij) pandai
membaca (menghafal) al-Qur’an tapi tidak melampaui tenggorokan mereka[25]
Inilah makna ucapan
dari salah seorang ulama Salaf yang berkata, “Terkadang ada orang yang (pandai)
membaca al-Qur’an, tapi al-Qur’an (justru) melaknat dirinya”[26].
Dalam hal ini, Imam
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tujuan dari membaca al-Qur’an adalah untuk
memahami, merenungkan, mendalami (kandungan maknanya) dan mengamalkannya.
Adapun membaca dan menghafalnya adalah sarana untuk (memahami) isinya,
sebagaimana ucapan salah seorang Ulama salaf: “Al-Qur’an diturunkan untuk
diamalkan, maka jadikanlah bacaannya sebagai amalan. Oleh karena itu, (yang
disebut) ahli al-Qur-an adalah orang-orang yang memahami isinya dan mengamalkan
(petunjuk)nya, meskipun mereka tidak menghafalnya di luar kepala. Adapun orang
yang menghafal al-Qur’an, tapi tidak memahami (kandungan)nya dan tidak
mengamalkan petnjuknya, maka dia bukanlah ahli al-Qur-an, meskipun dia mampu
menegakkan huruf-hurufnya (lafazhnya) seperti tegaknya anak panah…Juga
dikarenakan keimanan adalah amalan yang paling utama, sedangkan memahami dan
merenungkan al-Qur’an inilah yang membuahkan iman. Adapun hanya sekedar
membacanya tanpa memahami dan merenungkannya, maka ini bisa dilakukan oleh
orang yang shaleh maupun jahat, dan orang yang beriman maupun munafik,
sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
مَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ
الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَلَا طَعْمَ لَهَا
Perumpamaan orang
munafik yang membaca al-Qur’an adalah seperti (tumbuhan) raihanah, baunya harum
tetapi rasanya pahit [27]
PENUTUP
Semoga tulisan ini
bermanfaat dan menjadi motivasi bagi kita semua untuk lebih semangat dan
bersungguh-sungguh dalam membaca al-Qur’an, berusaha menghafalnya dan memahami
kandungan maknanya, untuk memudahkan kita – dengan izin Allâh Azza wa Jalla –
merenungkan dan menghayati isinya yang merupakan sebab utama untuk menumbuhkan
dan menyempurnakan keimanan kita. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ
أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ
لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
Sesungguhnya
al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi
khabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi
mereka ada pahala yang agung [al-Isrâ’/17:9].
Akhirnya, kami
menutup tulisan ini dengan memohon kepada Allâh Azza wa Jalla dengan
nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar Dia menjadikan
kita semua sebagai ahli al-Qur’an. Sesungguhnya Dia maha mendengar lagi maha
mengabulkan do’a.
[Disalin dari
majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XIX/1436H/2015. Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183
Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647,
081575792961, Redaksi 08122589079 ]
_______
Footnote
[1] HR Ahmad, 3/127;
Ibnu Mâjah, 1/78; dan al-Hâkim, 1/743; Hadits ini dinyatakan hasan oleh Imam
al-‘Iraqi (Takhrîj al-Ihyâ 1/222) dan as-Sakhawi (Kasyful khafâ’, hlm. 292),
dan dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim dan Syaikh al-Albani.
[2] Lihat kitab
Faidhul Qadîr , 3/67
[3] Kitab Taisîrul
Karîmir Rahmân, hlm. 825
[4] Lihat keterangan
Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Miftâhu Dâris Sa’âdah, 1/51
[5] HSR. Al-Bukhâri,
no. 4739
[6] Lihat kitab
“Faidhul Qadiir” (3/499).
[7] Dinukil oleh
Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Miftâhu Dâris Sa’âdah, 1/165
[8] Kitab Miftâhu
Dâris Sa’âdah, 1/74
[9] Lihat kitab
Tafsir Ibni Katsîr, 2/553 dan Fathul Qadîr, 2/656
[10] Kitab Taisîrul
Karîmir Rahmân, hlm. 454
[11] Kitab
Ighâtsatul Lahfân, 1/44
[12] Kitab
al-Fawâ-id, hlm. 3
[13] Kitab
al-Fawâ-id, hlm. 3
[14] Kitab
Ighâtsatul Lahfân, 1/44
[15] Lihat
keterangan Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsir beliau Taisîrul Karîmir
Rahmân, hlm. 315
[16] Dinukil oleh
Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Ibni Katsîr, 4/43
[17] Kitab Madârijus
Sâlikîn, 1/451
[18] Kitab Taisîrul
Karîmir Rahmân, hlm. 712
[19] Kitab
at-Taudhîh wal Bayân li Syajaratil îmân, hlm. 51
[20] Dinukil oleh
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Daqâ-iqut Tafsîr (2/227) dan adz-Dzahabi
dalam Siyar A’lâmin Nubalâ’, 4/269
[21] Kitab Taisîrul
Karîmir Rahmân, hlm. 788
[22] Kitab Miftâhu
Dâris Sa’âdah, 1/42
[23] Lihat kitab
Faidhul Qadîr, 3/67
[24] Lihat kitab
Syarhu Shahîh Muslim, 7/159
[25] HSR.
Al-Bukhâri, 3/1219 dan Muslim , no. 1064
[26] Dinukil oleh
Imam Abul Fadhl al-Alusy dalam tafsir beliau Rûhul Ma’â-ni, 22/192
[27] Kitab Zâdul
Ma’âd, 1/323. Hadits di atas riwayat al-Bukhari, no. 5111 dan Muslim, no. 797
Referensi:
https://almanhaj.or.id/6307-jadilah-ahli-alquran.html





