Kamis, 30 Maret 2017

Islam Harus Mewarnai Hidup Kita



الحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ ذِكْرَهُ نُورًا لِلسَّالِكِينَ، وَطَمْأَنَةً لِقُلُوبِ المُؤْمِنِينَ، وَرَبْطًا لَهُمْ بِرَبِّهِمْ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحِينٍ، وَنَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ البَرُّ الكَرِيمُ، وَعَدَ عِبَادَهُ الذَّاكِرِينَ بِالخَيْرِ العَمِيمِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ،   وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَان إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah.
Dalam kesempatan shalat Jumat ini, marilah selalu kita nasehati diri kita bersama-bersama, untuk menjaga, memelihara, merawat dan menumbuhkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Taala, sebagai syarat mutlak bagi kita untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ  (سورة النحل: 97
“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati dan diberkahi Allah Taala.
Kita tentu sepakat, Islam adalah agama  dan keyakinan kita. Hanya saja pertanyaan penting yang tidak dapat diabaikan adalah; Sudahkah agama yang kita anut ini mewarnai kehidupan kita, lahir batin, jasmani dan rohani? Sebuah pertanyaan yang jawabannya sangat erat terkait dengan bagaimana kualitas keberagamaan kita, apakah hanya sebatas pengakuan tanpa pembuktian, ataukah hanya sebatas keyakinan tanpa pengamalan.
Allah subahanahu wa taala berfirman
صِبْغَةَ اللهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ (سورة البقرة: 138
Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.(QS. Al-Baqarah: 138)
Mayoritas ulama tafsir menyatakan bahwa yang dimaksud sebagai shibghatullah dalam ayat ini adalah “Agama Allah” yaitu Islam. Mengapa Islam dalam ayat ini disebut sebagai ‘shibghah’ yang berarti celupan pewarna yang biasanya digunakan untuk mewarnai kain?
Mari kita simak penuturan Ibnu Abas yang dikutip oleh Imam Al-Bhagawi dalam kitab tafsirnya ketika menjelaskan tentang ayat ini,
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : دِينَ اللَّهِ، وَإِنَّمَا سَمَّاهُ صِبْغَةً لِأَنَّهُ يَظْهَرُ أَثَرُ الدِّينِ عَلَى الْمُتَدَيِّنِ، كَمَا يَظْهَرُ أَثَرُ الصَّبْغِ عَلَى الثَّوْبِ ، وَقِيلَ: لِأَنَّ الْمُتَدَيِّنَ يَلْزَمُهُ وَلَا يُفَارِقُهُ كَالصَّبْغِ يَلْزَمُ الثَّوْبَ
Ibnu Abbas berkata, “(Yang dimaksud shibghatullah) adalah agama Allah. Dinamakan shibghah (celupan pewarna) karena pengaruh agama akan tampak pada diri seorang penganutnya, sebagaimana pewarna akan tampak pengaruhnya pada sebuah baju. Ada juga yang mengatakan bahwa orang yang beragama akan selalu berkomitmen dan tidak berpisah darinya, sebagaimana warna dari celupan tersebut akan selalu menempel pada baju yang dicelup di dalamnya.”
Dengan demikian, dapat disimpulkan dari penjelasan tersebut bahwa yang dinginkan dengan memeluk agama Islam, bukan hanya sebatas pengakuan, bukan hanya sebatas simbol, bukan pula sebatas data informasi dalam catatan sipil. Tapi yang diinginkan dengan memeluk agama Islam adalah lahirnya sebuah keimanan yang kuat kepada Allah taala di dalam hati, lalu hal itu tercermin dalam sikap lakunya, tutur katanya, tindak tanduknya, hingga perasaan dan emosi kejiwaannya. Ibarat sehelai kain yang tercelup larutan pewarna, tidak ada satupun bagian dari kain tersebut yang tidak terwarnai oleh larutan pewarna tersebut.

Para hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah.
Kadang muncul ungkapan sinis agar jangan membawa-bawa agama dalam masalah-masalah tertentu, apakah individu, keluarga, sosial,  masalah ekonomi, atau politik, dsb. Maka, kita harus siap dan berani menyatakan bahwa justeru agama harus kita bawa dalam berbagai sektor kehidupan, apakah masalah individu, keluarga, maupun sosial, ekonomi maupun politik dan sebagainya. Karena itulah konsekwensi dari pengakuan kita terhadap Islam sebagai agama kita.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً (سورة البقرة: 208
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan.” (QS. Al-Baqarah: 208)
Boleh jadi ada suatu perkara yang sangat menarik kita, atau menjanjikan keuntungan besar, atau berbagai iming-iming dan tawaran lainnya. Namun sebagai muslim, semua itu harus ditimbang dengan nilai-nilai agama, jika dibenarkan dalam agama, Alhamdulillah. Tapi jika tidak, maka agama harus didahulukan sedangkan berbagai tawaran dan iming-iming yang ada harus dilupakan.
Atau sebaliknya, boleh jadi ada sejumlah pandangan negatif atau opini yang dikesankan buruk terhadap suatu perkara, namun ketika kita ketahui bahwa agama kita menyatakan hal itu sebagai kebaikan, bahkan sunah yang diajarkan, maka tidak boleh kita membencinya, apalagi memusuhinya, justeru kita harus mencintainya, bahkan sedapat mungkin melaksanakannya atau membelanya.
Sebab kita harus yakin, tidak ada yang Allah perintahkan dan ridhai, kecuali hal itu hakekatnya adalah baik bagi kita, walaupun sepintas kita tidak menyukainya. Sebaliknya, tidak ada perkara yang Allah larang dan benci, kecuali hakekatnya hal itu adalah buruk bagi kita, walau kadang sepintas hal itu kita sukai.
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (سورة البقرة: 216
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Dahulu Para shahabat radhiallahu anhum ajmain, sebelum diharamkannya khamar, umumnya mereka sangat gemar minum khamar, namun ketika turun pengharaman khamar, serta merta mereka tinggalkan khamar dan mereka tumpahkan khamar di depan-depan rumah mereka, sehingga diriwayatkan, jalan-jalan di kota Madinah ketika itu menjadi becek oleh khamar-khamar yang ditumpahkan pemiliknya.

Adapula contoh lain, bagaimana ketika agama telah mewarnai kehidupan seseorang sehingga mempengaruhi sikap dan pilihannya. Abu Thalhah dikenal sebagai orang yang kaya raya. Suatu saat, sebelum dia masuk Islam, dia melamar seorang sahabiyah bernama Ummu Sulaim binti Milhan, ibu dari Anas bin Malik radhiallahu anhu. Apa jawab Ummu Sulaim?
يـا أبا طلحة ! ما مثلُك يُرد، ولكنك امرؤ كافر، وأنا امرأة مسلمة، لا يَصْلُحُ لِيْ أَنْ أَتَزَوَّجَكَ
“Wahai Abu Thalhah! Orang sepertimu tidak pantas ditolak (lamarannya), tetapi karena engkau masih kafir, dan aku adalah seorang wanita muslimah, tidak boleh bagiku menikah denganmu.”
Akhirnya Abu Thalhah masuk Islam dan menikah dengan Ummu Sulaim, dan kemudian beliau menjadi salah seorang tokoh para sahabat.
Bayangkan, jika memilih kepala rumah tangga, acuan agama menjadi patokan, sehingga tidak dibenarkan seorang wanita muslimah mencari calon suami dari kalangan non muslim, betapapun orang tsb  sangat menarik dari berbagai sisi, apalagi jika permasalahannya adalah memilih pemimpin yang cakupan dan pengaruhnya lebih besar dan lebih luas. Sementara ayat-ayat Al-Quran, hadits-hadits Rasulullah  dan juga pandangan para ulama jelas menunjukkan tidak dibolehkannya kaum muslimin mengangkat orang kafir sebagai pemimpinnya. Maka, tentu lebih tidak dibenarkan lagi bagi seorang muslim untuk memilih dan mengangkat non muslim sebagai pemimpin. Ini kalau agama yang dijadikan sebagai patokan hidupnya.
Demikianlah hadirin jamaah shalat Jumat sekalian, bagaimana seharusnya Islam sebagai agama kita mewarnai dan membersamai setiap tingkah laku kitaو serta pilihan dan keputusan kita.
أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوْهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ..

Khutbah ke-dua________________________________________
الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ، يَذكُرُ مَنْ ذَكَرَهُ وَدَعَاهُ، وَيُعطِي المَزِيدَ مَنْ شَكَرَهُ وَرَجَاهُ، وَأشْهَدُ أَن لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، إِمَامُ الذَّاكِرِينَ، وَسَيِّدُ المُستَغْفِرِينَ؛ r وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَعَلَى كُلِّ مَنِ اسْـتَنَّ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ،
Hadiri jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah….
Islam sebagai shibghotullah, hendaknya membentuk karakter kita, emosi dan suasana jiwa kita. Ada yang mengatakan bahwa kaum muslimin jangan suka marah dan benci. tapi harus selalu mencintai. Masalahnya bukan bukan sekedar cinta atau benci. Akan tetapi, jika kita cinta, cinta kita karena apa, dan jika kita benci, benci kita karena apa. Justeru masalah ini dapat menjadi salah satu parameter kualitas iman kita.
Rasulullah saw bersabda,
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ، فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ    (رواه أبو داود)
“Siapa yang mencinta karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, mencegah karena Allah, maka telah sempurna keimanannya.” (HR. Abu Daud)

Iman kita menuntut kita untuk mencintai karena Allah apa dan siapa yang Allah cintai. Adapun jika ada kemungkaran, kemaksiatan, justeru kita harus membencinya. Demikianlah kalau Islam telah mewarnai kehidupan seorang muslim, membentuk karakternya, bahkan mempengaruhi suasana kejiwaannya dan cita rasa serta seleranya.
Semoga Allah kuatkan Iman Islam kita, dan jadikan kita sebagai muslim kafah dan istiqomah. Juga semoga Allah berikan keamanan dan kententraman bagi negeri kita dan negeri Islam lainnya, serta diberikan petunjuk kepada pemimpin ke jalan yang Allah ridhai dan cintai serta dijauhkan dari kejahatan orang-orang yang ingin berbuat kerusakan dan kekacauan. Amiin ya rabbal aalamin.

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلَّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ،

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ، المُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدُّعَاءِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُومًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُومًا، وَلا تَدَعْ فِينَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُومًا.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا فِي ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرْزَاقِنَا يَا ذَا الجَلالِ وَالإِكْرَامِ.
  رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
…..أقم الصلاة
 diambil dari khutbah Ust. Abdullah Haidirm Lc dengan sedikit perubahan 


Rabu, 01 Maret 2017

Keutamaan Menuntut Ilmu Agama

Keutamaan Menuntut Ilmu Agama

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam).” [1]

Hadits yang mulia ini menunjukkan agungnya kedudukan ilmu agama dan keutamaan yang besar bagi orang yang mempelajarinya, sehingga Imam an-Nawawi dalam kitabnya Riyadhush Shalihin [2], pada pembahasan “Keutamaan Ilmu” mencantumkan hadits ini sebagai hadits yang pertama.
Imam an-Nawawi berkata: “Hadits ini menunjukkan keutamaan ilmu (agama) dan keutamaan mempelajarinya, serta anjuran untuk menuntut ilmu.” [3]
Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalaani berkata: “Dalam hadits ini terdapat keterangan yang jelas tentang keutamaan orang-orang yang berilmu di atas semua manusia, dan keutamaan mempelajari ilmu agama di atas ilmu-ilmu lainnya.” [4]
Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini adalah:
  1. Ilmu yang disebutkan keutamaannya dan dipuji oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya adalah ilmu agama. [5]
  2. Salah satu ciri utama orang yang akan mendapatkan taufik dan kebaikan dari Allah Ta’ala  adalah dengan orang tersebut berusaha mempelajari dan memahami petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam agama Islam. [6]
  3. Orang yang tidak memiliki keinginan untuk mempelajari ilmu agama akan terhalangi untuk mendapatkan kebaikan dari Allah Ta’ala. [7]
  4. Yang dimaksud dengan pemahaman agama dalam hadits ini adalah ilmu/pengetahuan tentang hukum-hukum agama yang mewariskan amalan shaleh, karena ilmu yang tidak dibarengi dengan amalan shaleh bukanlah merupakan ciri kebaikan. [8]
  5. Memahami petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar merupakan penuntun bagi manusia untuk mencapai derajat takwa kepada Allah Ta’ala. [9]
  6. Pemahaman yang benar tentang agama Islam hanyalah bersumber dari Allah semata, oleh karena itu hendaknya seorang muslim disamping giat menuntut ilmu, selalu berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala agar dianugerahkan pemahaman yang benar dalam agama. [10]
***
Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A.
Artikel www.muslim.or.id
Footnote:
[1] HSR al-Bukhari (no. 2948) dan Muslim (no. 1037).
[2] 2/463- Bahjatun Naazhiriin.
[3] Syarah Shahih Muslim (7/128).
[4] Fathul Baari (1/165).
[5] Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaiman dalam kitab al-Ilmu (hal. 9).
[6] Lihat kitab Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/60).
[7] Lihat kitab Fathul Baari (1/165) dan Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/60).
[8] Lihat kitab Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/60).
[9] Lihat kitab Syarah Shahih Muslim (7/128) dan Faidhul Qadiir (3/510).
[10] Lihat Bahjatun Naazhiriin (2/463).

Bersama Keluarga di Surga


Bersama Keluarga di Surga

Pertanyaan:
Apa benar kelak di akhirat kita akan berkumpul bersama ibu, bapak, dan saudara kita?
Dari: Nur Laila
Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du
Terkait dengan masalah ini, Allah telah jelaskan dalam Alquran, melalui firman-Nya:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِين
Orang-oranng yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur: 21)
Terkait ayat ini, ada dua pendapat tafsir ulama :
Pertama, Bahwa Allah Ta’ala memberikan kenikmatan yang lebih kepada orang mukmin, penduduk surga yang menduduki derajat yang tinggi di surga, dimana Allah kumpulkan keturunannya yang derajatnya di bawah mereka bersama orang tuanya. Sehingga Allah mengangkat derajat penduduk surga yang kedudukannya lebih rendah menuju derajat yang lebih tinggi. Agar lebih menyenangkan hati orang tuanya, sementara kedudukannya sama sekali tidak dikurangi.
Oleh karena itu, jika ada orang tua masuk surga bersama anaknya, dan derajat orang tua lebih tinggi dari pada derajat anaknya, maka Allah akan mengangkat derajat anaknya sampai sederajat dengan ayahnya, agar sang ayah merasa lebih senang dengan berkumpulnya dengan anak-anaknya. Tanpa mengurangi derajat sang ayah sedikit pun.
Demikian pula sebaliknya, ketika derajat anak lebih tinggi daripada ayahnya, maka derajat ayah akan dinaikkan, sehingga bisa berjumpa dengan anaknya.
Ini adalah pendapat mayoritas ahli tafsir, dan inilah pendapat yang lebih mendekati makna tekstual ayat.
Kedua, ayat ini berbicara tentang orang beriman yang ditinggal mati anaknya yang belum menginjak usia baligh. Mereka tidak memiliki amal, selain iman. Agar lebih menyenangkan hati ayah dan ibunya, Allah mengangkat derajatnya, sehingga bisa berjumpa dengan orang tuanya.
Meskipun demikian, kedua pendapat ini tidak terlalu jauh, sehingga mungkin untuk kita katakan, bahwa makna ayat ini mencakup kedua-duanya.
Demikian keterangan Syaikh Sholeh bin Awad al-Maghamisi
di: http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=FullContent&audioid=157279
Sungguh kebahagiaan yang sempurna, pada saat Anda diselamatkan oleh Allah dari kengerian hari kiamat, kemudian Allah masukkan ke dalam surga nan indah. Tidak hanya itu, Anda dipertemukan dengan istri Anda dengan rupa nan indah, suami Anda dengan wajah yang menawan, dengan anak Anda yang menyejukkan pandangan. Hidup Anda dihiasi dengan kenikmatan tanpa batas, yang tidak mungkin bisa diungkapkan dengan kata-kata, selain doa: Ya Allah… kumpulkanlah kami di surga-Mu bersama orang-orang yang kami cintai, dan lindungilah kami dari adzab neraka.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

MOTIVASI MEMPELAJARI AL-QUR'AN

  JADILAH AHLI AL-QUR’AN ! Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA Siapa tidak ingin menjadi ahli al-Qur’an? Inilah kedudukan hamba ...