الحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ ذِكْرَهُ نُورًا لِلسَّالِكِينَ، وَطَمْأَنَةً لِقُلُوبِ المُؤْمِنِينَ، وَرَبْطًا لَهُمْ بِرَبِّهِمْ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحِينٍ، وَنَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ البَرُّ الكَرِيمُ، وَعَدَ عِبَادَهُ الذَّاكِرِينَ بِالخَيْرِ العَمِيمِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَان إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ
Hadirin jamaah shalat Jumat yang
dimuliakan Allah.
Dalam kesempatan shalat Jumat ini,
marilah selalu kita nasehati diri kita bersama-bersama, untuk menjaga,
memelihara, merawat dan menumbuhkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Taala,
sebagai syarat mutlak bagi kita untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan
di dunia dan akhirat.
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ
فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ
مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (سورة النحل: 97
“Barang siapa
mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman,
maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri
balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Hadirin jamaah
shalat Jumat yang dirahmati dan diberkahi Allah Taala.
Kita tentu sepakat, Islam adalah
agama dan keyakinan kita. Hanya saja pertanyaan penting yang tidak dapat
diabaikan adalah; Sudahkah agama yang kita anut ini mewarnai kehidupan kita,
lahir batin, jasmani dan rohani? Sebuah pertanyaan yang jawabannya sangat erat
terkait dengan bagaimana kualitas keberagamaan kita, apakah hanya sebatas
pengakuan tanpa pembuktian, ataukah hanya sebatas keyakinan tanpa pengamalan.
Allah subahanahu wa taala
berfirman
صِبْغَةَ اللهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ
عَابِدُونَ (سورة البقرة: 138
Shibghah Allah. Dan
siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah
kami menyembah.(QS. Al-Baqarah: 138)
Mayoritas ulama tafsir menyatakan
bahwa yang dimaksud sebagai shibghatullah dalam ayat ini adalah “Agama Allah”
yaitu Islam. Mengapa Islam dalam ayat ini disebut sebagai ‘shibghah’ yang
berarti celupan pewarna yang biasanya digunakan untuk mewarnai kain?
Mari kita simak penuturan Ibnu Abas
yang dikutip oleh Imam Al-Bhagawi dalam kitab tafsirnya ketika menjelaskan
tentang ayat ini,
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : دِينَ اللَّهِ، وَإِنَّمَا سَمَّاهُ
صِبْغَةً لِأَنَّهُ يَظْهَرُ أَثَرُ الدِّينِ عَلَى الْمُتَدَيِّنِ، كَمَا
يَظْهَرُ أَثَرُ الصَّبْغِ عَلَى الثَّوْبِ ، وَقِيلَ: لِأَنَّ الْمُتَدَيِّنَ
يَلْزَمُهُ وَلَا يُفَارِقُهُ كَالصَّبْغِ يَلْزَمُ الثَّوْبَ
Ibnu Abbas berkata, “(Yang dimaksud
shibghatullah) adalah agama Allah. Dinamakan shibghah (celupan pewarna) karena
pengaruh agama akan tampak pada diri seorang penganutnya, sebagaimana pewarna
akan tampak pengaruhnya pada sebuah baju. Ada juga yang mengatakan bahwa orang
yang beragama akan selalu berkomitmen dan tidak berpisah darinya, sebagaimana
warna dari celupan tersebut akan selalu menempel pada baju yang dicelup di
dalamnya.”
Dengan demikian, dapat disimpulkan
dari penjelasan tersebut bahwa yang dinginkan dengan memeluk agama Islam, bukan
hanya sebatas pengakuan, bukan hanya sebatas simbol, bukan pula sebatas data informasi
dalam catatan sipil. Tapi yang diinginkan dengan memeluk agama Islam adalah
lahirnya sebuah keimanan yang kuat kepada Allah taala di dalam hati, lalu hal
itu tercermin dalam sikap lakunya, tutur katanya, tindak tanduknya, hingga
perasaan dan emosi kejiwaannya. Ibarat sehelai kain yang tercelup larutan
pewarna, tidak ada satupun bagian dari kain tersebut yang tidak terwarnai oleh
larutan pewarna tersebut.
Para hadirin jamaah
shalat Jumat yang dimuliakan Allah.
Kadang muncul ungkapan sinis agar
jangan membawa-bawa agama dalam masalah-masalah tertentu, apakah individu,
keluarga, sosial, masalah ekonomi, atau politik, dsb. Maka, kita harus
siap dan berani menyatakan bahwa justeru agama harus kita bawa dalam berbagai
sektor kehidupan, apakah masalah individu, keluarga, maupun sosial, ekonomi
maupun politik dan sebagainya. Karena itulah konsekwensi dari pengakuan kita
terhadap Islam sebagai agama kita.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
(سورة البقرة: 208
“Hai orang-orang
yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan.” (QS. Al-Baqarah:
208)
Boleh jadi ada suatu perkara yang
sangat menarik kita, atau menjanjikan keuntungan besar, atau berbagai
iming-iming dan tawaran lainnya. Namun sebagai muslim, semua itu harus ditimbang
dengan nilai-nilai agama, jika dibenarkan dalam agama, Alhamdulillah. Tapi jika
tidak, maka agama harus didahulukan sedangkan berbagai tawaran dan iming-iming
yang ada harus dilupakan.
Atau sebaliknya, boleh jadi ada
sejumlah pandangan negatif atau opini yang dikesankan buruk terhadap suatu
perkara, namun ketika kita ketahui bahwa agama kita menyatakan hal itu sebagai
kebaikan, bahkan sunah yang diajarkan, maka tidak boleh kita membencinya,
apalagi memusuhinya, justeru kita harus mencintainya, bahkan sedapat mungkin
melaksanakannya atau membelanya.
Sebab kita harus yakin, tidak ada
yang Allah perintahkan dan ridhai, kecuali hal itu hakekatnya adalah baik bagi
kita, walaupun sepintas kita tidak menyukainya. Sebaliknya, tidak ada perkara
yang Allah larang dan benci, kecuali hakekatnya hal itu adalah buruk bagi kita,
walau kadang sepintas hal itu kita sukai.
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى
أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا
تَعْلَمُونَ (سورة البقرة: 216
“Boleh jadi kamu
membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu
menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu
tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Dahulu Para shahabat radhiallahu
anhum ajmain, sebelum diharamkannya khamar, umumnya mereka sangat gemar
minum khamar, namun ketika turun pengharaman khamar, serta merta mereka
tinggalkan khamar dan mereka tumpahkan khamar di depan-depan rumah mereka,
sehingga diriwayatkan, jalan-jalan di kota Madinah ketika itu menjadi becek
oleh khamar-khamar yang ditumpahkan pemiliknya.
Adapula contoh lain, bagaimana ketika
agama telah mewarnai kehidupan seseorang sehingga mempengaruhi sikap dan
pilihannya. Abu Thalhah dikenal sebagai orang yang kaya raya. Suatu saat,
sebelum dia masuk Islam, dia melamar seorang sahabiyah bernama Ummu Sulaim
binti Milhan, ibu dari Anas bin Malik radhiallahu anhu. Apa jawab Ummu Sulaim?
يـا أبا طلحة ! ما مثلُك يُرد، ولكنك امرؤ كافر، وأنا امرأة مسلمة،
لا يَصْلُحُ لِيْ أَنْ أَتَزَوَّجَكَ
“Wahai Abu Thalhah!
Orang sepertimu tidak pantas ditolak (lamarannya), tetapi karena engkau masih
kafir, dan aku adalah seorang wanita muslimah, tidak boleh bagiku menikah
denganmu.”
Akhirnya Abu Thalhah masuk Islam dan
menikah dengan Ummu Sulaim, dan kemudian beliau menjadi salah seorang tokoh
para sahabat.
Bayangkan, jika memilih kepala rumah
tangga, acuan agama menjadi patokan, sehingga tidak dibenarkan seorang wanita
muslimah mencari calon suami dari kalangan non muslim, betapapun orang
tsb sangat menarik dari berbagai sisi, apalagi jika permasalahannya
adalah memilih pemimpin yang cakupan dan pengaruhnya lebih besar dan lebih
luas. Sementara ayat-ayat Al-Quran, hadits-hadits Rasulullah dan juga pandangan para ulama jelas
menunjukkan tidak dibolehkannya kaum muslimin mengangkat orang kafir sebagai
pemimpinnya. Maka, tentu lebih tidak dibenarkan lagi bagi seorang muslim untuk
memilih dan mengangkat non muslim sebagai pemimpin. Ini kalau agama yang
dijadikan sebagai patokan hidupnya.
Demikianlah hadirin jamaah shalat
Jumat sekalian, bagaimana seharusnya Islam sebagai agama kita mewarnai dan
membersamai setiap tingkah laku kitaو serta pilihan
dan keputusan kita.
أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ
العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ
يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،
وَادْعُوْهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ..
Khutbah ke-dua________________________________________
الحَمْدُ
للهِ رَبِّ العَالَمِينَ، يَذكُرُ مَنْ ذَكَرَهُ وَدَعَاهُ، وَيُعطِي المَزِيدَ
مَنْ شَكَرَهُ وَرَجَاهُ، وَأشْهَدُ أَن لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ
شَرِيكَ لَهُ، وَأشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ
وَرَسُولُهُ، إِمَامُ الذَّاكِرِينَ، وَسَيِّدُ المُستَغْفِرِينَ؛ r وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ، وَعَلَى كُلِّ مَنِ اسْـتَنَّ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ،
Hadiri jamaah
shalat Jumat yang dimuliakan Allah….
Islam sebagai shibghotullah, hendaknya membentuk karakter kita,
emosi dan suasana jiwa kita. Ada yang mengatakan bahwa kaum muslimin jangan
suka marah dan benci. tapi harus selalu mencintai.
Masalahnya bukan bukan sekedar cinta atau benci. Akan tetapi, jika kita cinta,
cinta kita karena apa, dan jika kita benci, benci kita karena apa. Justeru
masalah ini dapat menjadi salah satu parameter kualitas iman kita.
Rasulullah saw bersabda,
مَنْ
أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ،
فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ (رواه أبو داود)
“Siapa yang
mencinta karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, mencegah
karena Allah, maka telah sempurna keimanannya.” (HR. Abu Daud)
Iman kita menuntut kita untuk
mencintai karena Allah apa dan siapa yang Allah cintai. Adapun jika ada
kemungkaran, kemaksiatan, justeru kita harus membencinya. Demikianlah kalau
Islam telah mewarnai kehidupan seorang muslim, membentuk karakternya, bahkan
mempengaruhi suasana kejiwaannya dan cita rasa serta seleranya.
Semoga Allah kuatkan Iman Islam kita,
dan jadikan kita sebagai muslim kafah dan istiqomah. Juga semoga Allah berikan
keamanan dan kententraman bagi negeri kita dan negeri Islam lainnya, serta
diberikan petunjuk kepada pemimpin ke jalan yang Allah ridhai dan cintai serta
dijauhkan dari kejahatan orang-orang yang ingin berbuat kerusakan dan
kekacauan. Amiin ya rabbal aalamin.
اللَّهُمَّ
صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ
وسَلَّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ،
فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ،
اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِلمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ، المُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدُّعَاءِ.
اللَّهُمَّ
اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُومًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ
بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُومًا، وَلا تَدَعْ فِينَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا
مَحْرُومًا.
اللَّهُمَّ
أَعِزَّ الإِسْلامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوفَهُمْ،
وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ،
وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ
أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ
الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا فِي ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرْزَاقِنَا يَا
ذَا الجَلالِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
…..أقم الصلاة
diambil dari khutbah Ust. Abdullah Haidirm Lc dengan sedikit perubahan







0 komentar:
Komentar baru tidak diizinkan.