Menghadapi Fitnah Akhir
Zaman
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ
يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
“يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ
إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.
“يَا أَيُّهَا النَّاسُ
اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا
زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ
الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”
أما بعد
Jamaah Jumat rahimakumullah
Mari kita tingkatkan
ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan ketakwaan
yang sebenar-benarnya, yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan
Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan
Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Shalawat serta salam
semoga senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam, kemudian keluarga,
sahabat-sahabatnya, serta pengikutnya sampai akhir zaman.
Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah
Akhir zaman merupakan
waktu di mana fitnah datang silih berganti, bagai potongan malam yang gelap.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ
فِتَنٌ كَقَطْعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ
“Sebelum datang kiamat
ada beberapa fitnah seperti potongan malam yang gelap.” (HR. Hakim, Shahihul Jaami’ no. 2855)
Oleh karena fitnah yang
datang begitu banyak, maka dibutuhkan pegangan agar seseorang tidak terbawa
arus fitnah tersebut.
Dengan adanya fitnah
(cobaan), maka dapat diketahui orang-orang yang benar imannya dan orang-orang
yang dusta.
Fitnah (cobaan) terbagi
menjadi dua:
1. Fitnah khusus
Fitnah khusus adalah
fitnah, di mana masing-masing manusia akan diuji dengan keluarganya (isteri dan
anak), hartanya (lih. Al Anfal: 28) dan tetangganya. Pada umumnya, cobaan itu
dapat melalaikan dan menjauhkan manusia dari beribadah kepada Allah dan
melupakannya dari mencari bekal untuk akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang fitnah ini:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ
ءَامَنُوا لاَتُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلآأَوْلاَدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللهِ وَمَن
يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“Wahai orang-orang beriman! Janganlah hartamu dan anak-anakmu
melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka
mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al Munafiqun: 9)
2. Fitnah umum
Fitnah umum adalah
fitnah yang berkaitan dengan agamanya, inilah fitnah syubhat. Fitnah ini pertama kali menimpa Iblis, karena
analogi rusak yang dijadikan argumentasi untuk menolak perintah Allah, untuk
sujud menghormati Adam. Dalam Alquran disebutkan:
قَالَ مَامَنَعَكَ
أَلاَّتَسْجُدَ إِذْأَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاخَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ
وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
“Apa yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku
menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya
dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al A’raaf: 12)
Fitnah syubhat ini bagi
orang yang kurang dalam ilmunya, terlihat seakan-akan baik, bagus dan benar,
padahal di balik itu, ada bahaya yang besar, dan bahaya tersebut umumnya, hanya
diketahui oleh orang-orang yang dalam ilmu agamanya.
Sebagai contoh, makanan
yang haram, dibuat dan dikaburkan seolah-olah halal.
Riba dihiasi dengan
istilah lain seperti bunga, bagi hasil dll
Perkara yang ma’ruf,
disamarkan seolah-olah menjadi perkara yg munkar.
Untuk menghadapi fitnah
syubhat ini adalah dengan yakin di atas kebenaran dan teguh, tidak mudah
berubah oleh situasi dan kondisi; berbekal ilmu syar’i.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُهُ العَظِيْمَ الجَلِيْلَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ
المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلحَمْدُ لِلّهِ
الوَاحِدِ القَهَّارِ، الرَحِيْمِ الغَفَّارِ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى عَلَى فَضْلِهِ
المِدْرَارِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الغِزَارِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ
إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ العَزِيْزُ الجَبَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ
نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المُصْطَفَى المُخْتَار، صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الطَيِّبِيْنَ الأَطْهَار، وَإِخْوَنِهِ
الأَبْرَارِ، وَأَصْحَابُهُ الأَخْيَارِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا
تُعَاقِبُ اللَيْلَ وَالنَّهَار
Kaum muslimin, jamaah
Jumat yang dirahmati Allah
Kemudian di antara
solusi agar diri kita terhindar dari fitnah terutama fitnah syubhat adalah
1.
Mendekat kepada para ulama rabbani
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى
الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِى اْلأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ
يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ
“Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di
antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan
dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri).” (QS. An Nisaa’: 83)
Makna “Ulil Amri” di
sini adalah ulama dan umara’. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kami ketika timbul kekhawatiran,
pikiran kami kacau dan bumi (yang luas) terasa sempit, kami mendatangi beliau
(Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah), kami perhatikan dan dengarkan kata-katanya
sehingga hilanglah (syubhat) yang menimpa kami semuanya.”
2.
Tetap bersama jamaah kaum muslimin dan imam
mereka.
Hal ini berdasarkan
hadits Hudzaifah yang panjang ketika Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa
sallam menjelaskan akan
muncul banyak fitnah, lalu Hudzaifah bertanya tentang bagaimana sikap yang
harus dilakukannya. Maka Beliau bersabda:
تَلْزَمُ جَمَاعَةَ
الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا
إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ
بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
“Kamu tetap bersama jamaah
kaum muslimin dan imam mereka.” Hudzaifah bertanya, “Jika mereka tidak memiliki
jamaah dan imam (bagaimana)?” Beliau menjawab: “Jauhilah semua firqah
(golongan) itu, meskipun kamu harus menggigit akar pohon, sampai maut
menjemputmu dan kamu berada di atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Berlemah lembut dan tidak tergesa-gesa dalam
sesuatu, agar dapat menyikapi masalah dengan bijak (hikmah).
4. Bersabar dan teguh di
assunnah
Berpegang dengan sunah
di zaman fitnah sungguh berat, ibarat memegang bara api. Oleh karena itu,
seseorang butuh bersabar. Untuk memperoleh kesabaran di antara caranya adalah
dengan mengkaji Alquran dengan tafsirnya dan sunah dengan penjelasannya,
memperhatikan akibat baik bagi orang-orang yang bersabar, mempelajari
kisah-kisah para nabi dan para sahabat, menghadiri majlis-majlis ilmu, berkawan
dengan orang-orang shalih, mengingat surga dan neraka, mengingat bahwa hidup di
dunia hanya sementara, dsb.
5. Ingat, masa depan di
tangan Islam
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ
ءَامَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ
كَمَااسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di
antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan
menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan
orang-orang sebelum mereka berkuasa.” (terjemah An Nuur: 55)
Oleh karena itu,
tetaplah mendalami Islam dengan benar, amalkanlah, dakwahkanlah dan bersabarlah
dalam berdakwah. Jika kita sudah melakukannya, niscaya Allah akan memenangkan
Islam sebagaimana Allah telah memenangkan Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa
sallam dan para
sahabatnya dahulu.
6. Berlindung kepada
Allah dari fitnah.
Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
تَعَوَّذُوْا بِاللهِ
مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
“Berlindunglah kepada
Allah dari fitnah; yang nampak maupun yang tersembunyi.” (HR. Muslim)
7.
Berdo’a kepada Allah agar diberi keteguhan hati.
Hati manusia semuanya berada di antara dua jari di antara
jari-jari Allah, Dia mudah membalikkannya jika Dia menghendaki (HR. Ahmad dan Muslim). Oleh karena itu,
Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam sering berdo’a dengan do’a berikut:
يَا مُقَلِّبَ
الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلىَ دِيْنِكَ
“Wahai Allah yang
membolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku ini di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi dari Anas, lih. Shahihul Jami’ 7864)
إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى
آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهم بَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى
آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ
وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ
سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ
الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.
رَبَّنَا آتِنَا فِي
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ





